13 Juni 2008

Artikel RSNA

Radiologi Intervensional Beresiko Menyebabkan Katarak

Radiologis intervensional sangat rentan resiko cedera mata akibat radiasi dan sebaiknya memakai pelindung mata untuk mencegah terjadinya katarak subkapsular posterior (PSC), berdasarkan penelitian yang diungkap dalam konferensi tahunan Masyarakat Radiologi Intervensional bulan Maret lalu.

Kami terkejut oleh temuan ini, “ kata Ziv J. Haskal M.D., guru besar radiologi dan operasi dari Sekolah Dokter dan Ahli Bedah Universitas Columbia dan direktur radiologi vaskuler and intervensional di kampus Columbia Rumah Sakit Presbyterian New York.

Para peneliti menemukan bahwa frekuensi dan keparahan katarak PSC meningkat seiring bertambahnya umur dan lama praktek.

Dr. Haskal mendorong radiologis intervensional untuk lebih patuh memakai pelindung mata anti radiasi berkualitas tinggi. Beliau juga mengingatkan mereka akan tidak meremehkan resiko radiasi karena periode laten yang sangat panjang antara paparan awal dan temuan-temuan “Saya menemukan bukti kerusakan PSC pada radiologis intervensional yang berpraktek pada awal 30 an,” kata beliau.

“Ada alternatif selain kacamata timbal pelindung yang memblok radiasi dan mengurangi dosisnya terhadap mata,” kata Dr. Haskal. “Kacamata ini memang tidak sama sekali menghilangkannya, tetapi secara nyata mengurangi dosis terhadap mata. Kemajuan teknologi dengan modifikasi prosedural untuk meminimalkan waktu paparan juga pendekatan yang masuk akal.”

Para peneliti menyaring 59 orang radiologis intervensional yang menjalankan praktek selama konferensi medis di New York City Nopember 2003 untuk meneliti terbentuknya katarak PSC akibat radiasi ion. Mereka berumur antara 29 sampai 62 tahun. Mereka ditanyai berapa tahun telah berpraktek, lingkungan kerja, dan potensi pusing kataraktogenik. Sebuah alat pencitra khusus, Nidek EAS1000 Scheimpflug dan kamera retroiluminasi, dipakai mendokumentasikan mata dan status katarak subyek.

Para peneliti menemukan bahwa hampir separuh dari radiologis intervensional tersebut menunjukkan tanda-tanda perubahan lensa akibat radiasi. Katarak PSC ditemukan pada lima (8 persen) dari 59 radiologis tersebut, dan 22 subyek lainnya (22 persen) menunjukkan kekeruhan mirip titik parasentral kecil pada area PSC dalam lensa, yang sama dengan tanda-tanda kerusakan akibat radiasi. Seorang radiologis intervensional telah menjalani bedah katarak pada satu matanya sebelum disaring dalam studi tersebut.

Mengurangi Dosis Radiasi

“Studi ini dan studi-studi lain menunjukkan bahwa orang-orang terkena katarak pada dosis yang lebih jauh rendah daripada ambang maksimal,” kata Basil V. Worgul, PhD., guru besar biologi radiasi dalam opthalmologi dan radiology pada Sekolah Dokter and Ahli Bedah Universitas Columbia. Studi-studi lain tersebut di antaranya mencakup pekerja yang selamat setelah kecelakaan reaktor nuklir Chernobyl tahun 1986.

“Saat ini, radiologis diyakinkan mereka bebas dari bahaya katarak asal tetap berada di bawah 2.000 miligray,” kata Dr. Worgul. “Pemahaman semacam itu, yang menjadi dasar penetapan ambang batas tadi, secara biologis tidak masuk akal. Kita tahu dari penelitian terhadap binatang bahwa tidak satu dosis radiasi pun benar-benar aman. Semua batasan yang ada saat ini hanya berpatokan pada ambang tersebut. Rasa aman asal kita bekerja di bawah ambang tersebut adalah keliru.”

Lebih dari satu dasawarsa lalu, Dr. Worgul meramalkan para astronot akan menderita katarak akibat petualangan angkasa luar mereka. Belakangan, sebuah makalah diterbitkan yang isinya melaporkan bahwa sudut jalur penerbangan mungkin berkorelasi dengan terjadinya katarak pada astronot.

Dr. Worgul mengatakan beliau yakin bahwa dosis ambang harus dikurangi serendah mungkin sampai 10% dari rekomendasi sekarang dan bahwa resiko per dosis satuan tetap akan terjadi berapapun ambang yang ditetapkan.

Lensa mata, dan sumsum tulang, sangat sensitif terhadap radiasi. Katarak PSC yang terjadi pada bagian belakang lensa mengurangi sensitifitas sebelum merusak akuitas visual. Ini berbeda dari katarak yang terjadi karena faktor usia, yang menyerang akuitas visual lebih dahulu.

“Salah satu temuan paling penting adalah bahwa perubahan yang teramati ditemukan pada radiologis intervensional pada pertengahan 40 an,” kata Anna Junk, M.D. pengarang utama dan ahli mata di Sekolah Kedokteran Albert Einstein. “Meski kekeruhan ringan ini tidak memengaruhi kemampuan kerja, masalah ini wajib diperhatikan secara serius karena kekeruhan ini mencerminkan paparan radiasi yang telah terjadi selama 10 tahun atau lebih.”

Ia mengulang peringatan Dr. Haskal terhadap radiologis intervensional. “Diduga paparan yang makin sering mempercepat perkembangan katarak dan menimbulkan kebutaan meskipun kebiasaan kerja telah diubah dengan segera,” tambah Dr. Junk. “Radiologis intervensional harus memiliki penglihatan 20/20 pada kedua mata untuk dapat menjalankan stereopsis dengan baik dan prosedur rumit yang dibutuhkan dalam pekerjaan mereka. Pengobatan, ekstraksi katarak, adalah salah satu prosedur bedah yang paling umum dan berhasil, namun masih sering dikaitkan dengan resiko yang dapat memengaruhi hasil dan rehabilitasi penglihatan. Bagi radiologis intervensional bahkan operasi katarak yang berhasil dapat berdampak minimal dan mengakhiri karir mereka.

Lindsay S. Machan, M.D. bersama Dr. Junk, Haskal, dan Worgul, sedang menyiapkan sebuah studi yang lebih luas untuk memperkuat temuan-temuan itu. Tim ini mencatat bahwa masih banyak sekali data dari studi kelayakan tersebut yang belum dianalisis. “Kami akan melakukan analisis lebih dalam semua informasi yang kami kumpulkan dan berharap memperoleh hasil lebih lengkap kelak,” kata mereka.

10 Juni 2008

Promosi "199XRay Scopemeter"


Mengawali http://kalibrasialkes.blogspot.com, kami memberikan promosi untuk produk sebagai berikut

Nama Alat : Scopemeter
Model : 199XRay
Brand : Fluke Biomedical
Kondisi : Ready Stock & Baru
Include : Carrying Case, User Manual, Test lead set, Certificate of Calibration

Untuk mengetahui discountnya, silahkan menghubungi kami secepatnya :
PT Quantum Inti Akurasi
Ph. 021 532 4238 / 532 6575
CP. Sudarso PS



Spesifikasi :

Dual input – 200, 100 or 60 MHz bandwidth

Up to 2.5 GS/s real-time sampling per input

Connect-and-View™ automatic triggering and a full range of manual trigger modes

Digital Persistence for analyzing complex dynamic waveforms, similar to an analog scope

Fast-display update rate for seeing dynamic behavior instantaneously

Automatic capture and replay of 100 screens

27,500 points-per-input record length using ScopeRecord mode

TrendPlot paperless chart recorder for trend analysis up to 22 days

Up to 1,000 V independently floating isolated inputs

Waveform reference for visual comparisons and automatic pass/fail testing of waveforms

Vpwm function for motor drive and frequency inverter applications

1000 V CAT II and 600 V CAT III safety certified

Four-hours-rechargeable NiMH battery pack


08 Juni 2008

Training Ventilator & Gas Anaesthesi Calibration




PT. Quantum Inti Akurasi bekerjasama dengan imtmedical – Swiss dan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta telah mengadakan seminar dan pelatihan pengukuran kalibrasi pada mesin Ventilator dan Anaesthesi pada hari Kamis tanggal 25 Januari 2007. Pelatihan ini dihadiri oleh Staff-staff dari rumah sakit, Distributor Ventilator dan Anaesthesi, BPFK (Medan, Jakarta, Surabaya dan Makassar) dan Departemen Kesehatan RI. Tujuan seminar dan pelatihan ini untuk menambah pengetahuan dan penguasaan teknik pengkuran dan kalibrasi mesin ventilator dan anaesthesi.

QA @ Radiodiagnostic



PT. Quantum Inti Akurasi bekerjasama dengan RTI Electronics AB (Sweden) dan beberapa instansi pemerintah (RSJPD Harapan Kita Jakarta, RSK Dharmais Jakarta, BPFK Surabaya, RSUD Dr Soetomo Surabaya, dan BPFK Medan) telah mengadakan seminar dan pelatihan pengukuran output X-Ray Diagnostic pada tahun Januari 2006 dan Januari 2007. Pelatihan ini dihadiri oleh Staff-staff dari rumah sakit, Distributor X-Ray Diagnostic, BPFK (Medan, Jakarta, Surabaya dan Makassar) dan Departemen Kesehatan RI.

06 Juni 2008

Training Audiometer Calibration






PT Quantum Inti Akurasi bekerjasama dengan Larson Davis sebagai Principle Audiometer Calibration Systems dan PT Bersaudara sebagai Distributor Amplaid Audiometer, telah mengadakan Pelatihan Kalibrasi Audiometer di Hotel The Sultan, Jakarta, pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2007. Pelatihan ini dihadiri oleh Staff Kalibrasi BPFK (Medan, Jakarta, Surabaya dan Makassar) dan Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

05 Juni 2008

Intoduction


We are the first and the only company in Indonesia who specializes in Biomedical and Radiology Testing and Calibration instrument business. We actively represent some world-class brands such as Fluke Biomedical, RTI Electronics, Rotem Industries, Hopewell, X-Rite, Sun Nuclear, Kimo, Andilog and Larson Davis.

As part of our missions, we provide comprehensive application trainings to end-users, product warranty and after-sales service for every single product procured through us or our dealers. We hold several free technical seminars and on-hand demonstration in healthcare equipments testing and calibration as a contribution to Indonesian human-resource’s calibration skill improvement. Radiology Quality Control, Ventilator Calibration and Audiometer Calibration are amongst the seminars we had done successfully. For such seminars, we work closely with technical experts from our principals and hospitals.

To better serve and work closely with our customers, we have inclusive team of Sales engineers, Application/Support Engineers and Service Engineers to make sure our customers receive the fullest service from our company and our principal’s companies. Our Sales, Application and Service engineers are fully trained and certified by our principal companies.

For further information :

PT Quantum Inti Akurasi

Ged. Cahaya Palmerah Lt. 5, Jl. Palmerah Utara III / 9

Jakarta 11480

Ph. 021 532 4238 / 532 6575

F. 021 532 4239

email. darso-ps@dnet.net.id or ricky_ys@dnet.net.id

Arsip Blog