Radiologis intervensional sangat rentan resiko cedera mata akibat radiasi dan sebaiknya memakai pelindung mata untuk mencegah terjadinya katarak subkapsular posterior (PSC), berdasarkan penelitian yang diungkap dalam konferensi tahunan Masyarakat Radiologi Intervensional bulan Maret lalu.
Kami terkejut oleh temuan ini, “ kata Ziv J. Haskal M.D., guru besar radiologi dan operasi dari Sekolah Dokter dan Ahli Bedah Universitas Columbia dan direktur radiologi vaskuler and intervensional di kampus Columbia Rumah Sakit Presbyterian New York.
Para peneliti menemukan bahwa frekuensi dan keparahan katarak PSC meningkat seiring bertambahnya umur dan lama praktek.
Dr. Haskal mendorong radiologis intervensional untuk lebih patuh memakai pelindung mata anti radiasi berkualitas tinggi. Beliau juga mengingatkan mereka akan tidak meremehkan resiko radiasi karena periode laten yang sangat panjang antara paparan awal dan temuan-temuan “Saya menemukan bukti kerusakan PSC pada radiologis intervensional yang berpraktek pada awal 30 an,” kata beliau.
“Ada alternatif selain kacamata timbal pelindung yang memblok radiasi dan mengurangi dosisnya terhadap mata,” kata Dr. Haskal. “Kacamata ini memang tidak sama sekali menghilangkannya, tetapi secara nyata mengurangi dosis terhadap mata. Kemajuan teknologi dengan modifikasi prosedural untuk meminimalkan waktu paparan juga pendekatan yang masuk akal.”
Para peneliti menyaring 59 orang radiologis intervensional yang menjalankan praktek selama konferensi medis di New York City Nopember 2003 untuk meneliti terbentuknya katarak PSC akibat radiasi ion. Mereka berumur antara 29 sampai 62 tahun. Mereka ditanyai berapa tahun telah berpraktek, lingkungan kerja, dan potensi pusing kataraktogenik. Sebuah alat pencitra khusus, Nidek EAS1000 Scheimpflug dan kamera retroiluminasi, dipakai mendokumentasikan mata dan status katarak subyek.
Para peneliti menemukan bahwa hampir separuh dari radiologis intervensional tersebut menunjukkan tanda-tanda perubahan lensa akibat radiasi. Katarak PSC ditemukan pada lima (8 persen) dari 59 radiologis tersebut, dan 22 subyek lainnya (22 persen) menunjukkan kekeruhan mirip titik parasentral kecil pada area PSC dalam lensa, yang sama dengan tanda-tanda kerusakan akibat radiasi. Seorang radiologis intervensional telah menjalani bedah katarak pada satu matanya sebelum disaring dalam studi tersebut.
Mengurangi Dosis Radiasi
“Studi ini dan studi-studi lain menunjukkan bahwa orang-orang terkena katarak pada dosis yang lebih jauh rendah daripada ambang maksimal,” kata Basil V. Worgul, PhD., guru besar biologi radiasi dalam opthalmologi dan radiology pada Sekolah Dokter and Ahli Bedah Universitas Columbia. Studi-studi lain tersebut di antaranya mencakup pekerja yang selamat setelah kecelakaan reaktor nuklir Chernobyl tahun 1986.
“Saat ini, radiologis diyakinkan mereka bebas dari bahaya katarak asal tetap berada di bawah 2.000 miligray,” kata Dr. Worgul. “Pemahaman semacam itu, yang menjadi dasar penetapan ambang batas tadi, secara biologis tidak masuk akal. Kita tahu dari penelitian terhadap binatang bahwa tidak satu dosis radiasi pun benar-benar aman. Semua batasan yang ada saat ini hanya berpatokan pada ambang tersebut. Rasa aman asal kita bekerja di bawah ambang tersebut adalah keliru.”
Lebih dari satu dasawarsa lalu, Dr. Worgul meramalkan para astronot akan menderita katarak akibat petualangan angkasa luar mereka. Belakangan, sebuah makalah diterbitkan yang isinya melaporkan bahwa sudut jalur penerbangan mungkin berkorelasi dengan terjadinya katarak pada astronot.
Dr. Worgul mengatakan beliau yakin bahwa dosis ambang harus dikurangi serendah mungkin sampai 10% dari rekomendasi sekarang dan bahwa resiko per dosis satuan tetap akan terjadi berapapun ambang yang ditetapkan.
Lensa mata, dan sumsum tulang, sangat sensitif terhadap radiasi. Katarak PSC yang terjadi pada bagian belakang lensa mengurangi sensitifitas sebelum merusak akuitas visual. Ini berbeda dari katarak yang terjadi karena faktor usia, yang menyerang akuitas visual lebih dahulu.
“Salah satu temuan paling penting adalah bahwa perubahan yang teramati ditemukan pada radiologis intervensional pada pertengahan 40 an,” kata Anna Junk, M.D. pengarang utama dan ahli mata di Sekolah Kedokteran Albert Einstein. “Meski kekeruhan ringan ini tidak memengaruhi kemampuan kerja, masalah ini wajib diperhatikan secara serius karena kekeruhan ini mencerminkan paparan radiasi yang telah terjadi selama 10 tahun atau lebih.”
Ia mengulang peringatan Dr. Haskal terhadap radiologis intervensional. “Diduga paparan yang makin sering mempercepat perkembangan katarak dan menimbulkan kebutaan meskipun kebiasaan kerja telah diubah dengan segera,” tambah Dr. Junk. “Radiologis intervensional harus memiliki penglihatan 20/20 pada kedua mata untuk dapat menjalankan stereopsis dengan baik dan prosedur rumit yang dibutuhkan dalam pekerjaan mereka. Pengobatan, ekstraksi katarak, adalah salah satu prosedur bedah yang paling umum dan berhasil, namun masih sering dikaitkan dengan resiko yang dapat memengaruhi hasil dan rehabilitasi penglihatan. Bagi radiologis intervensional bahkan operasi katarak yang berhasil dapat berdampak minimal dan mengakhiri karir mereka.
Lindsay S. Machan, M.D. bersama Dr. Junk, Haskal, dan Worgul, sedang menyiapkan sebuah studi yang lebih luas untuk memperkuat temuan-temuan itu. Tim ini mencatat bahwa masih banyak sekali data dari studi kelayakan tersebut yang belum dianalisis. “Kami akan melakukan analisis lebih dalam semua informasi yang kami kumpulkan dan berharap memperoleh hasil lebih lengkap kelak,” kata mereka.
1 komentar:
Wah repot juga kalo mau ngeronsen pasien harus pake kaca mata PB yang berat gitu.
Posting Komentar